Kisah Uwais Al-Qarni, Menggendong Sang Ibu Menunaikan Haji

Pernah mendengar nama Uwais Al-Qarni? Ya…, dia adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di negeri Yaman. Uwais Al-Qarni hidup se-zaman dengan Nabi Muhammad SAW. Namun lantaran jarak antara Yaman dan Madinah yang cukup jauh, sehingga dia tak pernah berjumpa dengan baginda Rasul. Padahal keinginannya untuk bertemu dengan Rasul sangatlah tinggi. Acapkali beliau sedih begitu melihat tetangganya pulang dari Madinah dan menceritakan pertemuan mereka dengan Rasulullah SAW.

Memang pernah suatu ketika Uwais Al-Qarni pergi ke Madinah untuk menemui sang Rasul. Namun ia harus kecewa karena Rasulullah tak berada di rumah. Kala itu Rasulullah sedang berada di Medan Perang. Uwais sebenarnya bisa saja menunggu

Rasul kembali, namun ia memikirkan keadaan ibunya di rumah yang telah tua renta, buta dan lumpuh, sehingga ia tak tega berlama-lama di Madinah dan memutuskan pulang ke Yaman hari itu juga guna merawat sang ibu.

KECINTAAN dan ketaatan Uwais Al-Qarni terhadap ibunya tak perlu diragukan lagi. Dalam usia yang masih muda dan hidup dalam ekonomi yang pas-pasan, dia mampu berbakti dan membahagiakan ibunya. Uwais selalu merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya dengan tulus ikhlas.

Pernah suatu ketika sang ibu menginginkan sesuatu yang sangat berat dikabulkan oleh Uwais. “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan ibadah haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibeli-lah seekor anak lembu. Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais segera membuatkan kandang lembu di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit.

“Uwais gila… Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais.

Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut, namun Uwais tak menghiraukannya. Tak pernah ada hari yang terlewatkan untuk menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi beratnya.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Akhirnya tahulah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari, yakni sebuah latihan untuk menggendong ibunya menuju Makkah.

Musim haji-pun tiba. Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah!! Alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah.

Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk syurga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke syurga.” Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta, yang siap tampil untuk membahagiakan ibunya.

Allah SWT pun memberikan karunia dan kemuliaan bagi Uwais Al-Qarni. Bahkan Syurga Allah sudah menanti untuknya. Nabi Muhammad SAW (meskipun tak pernah berjumpa) menyanjung dan mengakui kemuliaan Uwais Al-Qarni. Secara khusus Nabi SAW berpesan kepada dua sahabatnya, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia (Uwais Al-Qarni), mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”.

Dan ketika Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatillah, sebuah keajaiban pun muncul saat itu. Pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan ingin memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. (*)