MUQADDIMAH

Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa berprilaku jujur dan konsisten dengan kejujuran, sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” [QS. At-Taubah: 119].

Bersikap jujur dan selalu bersama orang-orang jujur dalam setiap kesempatan adalah sebuah keharusan. Kejujuran akan mendatangkan kebahagiaan, kedamaian, serta memperoleh balasan yang baik dari sisi Allah SWT.

Negeri kita Indonesia ini, bila dikelola oleh orang-orang jujur, niscaya akan mendatangkan rahmat Allah SWT berupa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh penduduknya. Tapi apabila kejujuran sudah berganti dengan kebohongan dan kecurangan, niscaya rahmat Allah tersebut akan berganti dengan kemurkaan.

Kisah “Hadiah Kejujuran” berikut ini mudah-mudahan dapat menginspirasi kita agar selalu hidup dalam kejujuran.

Mudah-mudahan bermanfaat. Tersebutlah seorang shaleh bernama Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baihaqi. Di sepenjuru Makkah, masyarakat mengenalnya sebagai orang yang jujur dan amanah.

Suatu ketika Al-Qadhi Abu Bakar kehabisan bahan makanan. Ia tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli makanan. Ia pun tidak menemukan sesuatu yang halal untuk dimakan. Sebenarnya ia bisa saja meminta sedikit makanan kepada beberapa tetangganya, namun ia tak mau melakukan hal hina tersebut, ia lebih memilih untuk menahan rasa laparnya.

Suatu siang ia melihat sesuatu di pinggir jalan yang menarik pandanganya. Sebuah kantong yang terbuat dari sutra tergeletak begitu saja di tengah jalan. Setelah berfikir sejenak, ia memutuskan untuk memungut kantong tersebut dan membawanya pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, ia membuka kantong tersebut, isinya adalah kalung permata yang sangat indah. Melihat isi kantong itu, ia sangat terkejut karena baru pertama kali melihat perhiasan begitu indahnya. Namun, imannya menyuruh untuk mencari pemiliknya agar bisa dikembalikan kalung tersebut kepadanya.

Al-Qadhi pun segera keluar dari rumahnya untuk mencari si pemilik kantong. Setelah berkeliling kampung beberapa waktu lamanya, tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak mencari kantongnya yang hilang.

Ternyata orang itu adalah lelaki tua yang menawarkan sejumlah uang bagi yang menemukan kantongnya.

Lelaki tua itu berkata, “Barangsiapa menemukan kantong sutra berisi permata milikku dan mau mengembalikannya kepadaku, aku akan menebusnya dengan lima ratus dinar!”Betapa senangnya Al-Qadhi jika lelaki tua itu benar-benar pemilik kantong berisi permata yang ia temukan.

Segera ia panggil lelaki tua tersebut, “Hai Pak Tua, kemarilah, ceritakanlah kepadaku ciri-ciri kantongmu!

Lelaki tua itu menggambarkan dengan sedetail-detailnya bentuk kantong permata tersebut. Benarlah bahwa kantong permata yang ia temukan adalah milik lelaki tua itu. Tanpa membuang waktu, Al-Qadhi langsung memulangkan kantong itu padanya.

Bahagia tak terkira terpancar dari wajah lelaki tua itu. Ia pun memberikan sekantong uang berisi 500 Dinar sebagaimana yang telah ia janjikan kepada siapa saja yang berhasil menemukan kantong hartanya, termasuk Al-Qadhi.

Namun, Al-Qadhi menolak dengan berkata, “Barang itu memang milikmu dan kau berhak memilikinya tanpa perlu memberiku sesuatu.

Ambillah karena sudah janjiku untuk memberimu hadiah!” bujuk lelaki tua itu. Sekali lagi Al-Qadhi menolak meskipun didesak berkali-kali. Akhirnya, lelaki tua itu mengucapkan terima kasih sambil berlalu meninggalkan Al-Qadhi.

Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu, Al-Qadhi berlayar meninggalkan Makkah. Malang baginya karena perahu yang ditumpanginya hancur dihantam ombak besar. Tidak ada penumpang yang selamat ketika itu kecuali dirinya. Ia bisa selamat lantaran sempat berpegangan pada pecahan kayu perahu.

Ia terdampar di sebuah pulau berpenduduk. Ketika dilihatnya sebuah masjid, ia segera menuju ke sana dan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Beberapa orang dari penduduk setempat mendengarnya. Mereka lalu memintanya untuk diajari membaca Al-Qur’an.

Ketika mengetahui bahwa Al-Qadhi bisa menulis, mereka pun minta untuk diajari cara menulis. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, mereka berdatangan ke masjid untuk belajar. Ia pun mendapat uang yang lumayan banyak dari mereka. Melihat keshalehan Al-Qadhi, salah seorang dari mereka menawarinya untuk menikah dengan seorang gadis yatim.

Ia berkata kepada Al-Qadhi, “Kami memiliki seorang putri yatim. Ia memiliki harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?

Awalnya Al-Qadhi menolak tawaran tersebut. Namun, setelah didesak terus-menerus ia pun menerima tawaran itu.

Ketika gadis yatim yang dimaksud dibawa ke hadapannya, Al-Qadhi mengenali kalung permata yang melingkar di leher gadis itu. Kalung itu adalah kalung permata yang pernah ditemukannya di Makkah.

Salah seorang dari mereka yang mengetahui bahwa Al-Qadhi tertarik pada kalung tersebut bertanya, “Kau hanya memerhatikan kalung itu. Mengapa kau tidak mau memerhatikan gadis yang memakainya?

Al-Qadhi menceritakan pengalamannya yang lalu saat menemukan permata yang hilang kepada mereka. Setelah mereka mendengarkan seluruh cerita darinya, mereka langsung meneriakkan tahlil dan takbir.

Al-Qadhi tidak mengerti mengapa mereka melakukan itu. Kemudian salah seorang dari mereka menjelaskan, “Tahukah engkau bahwa orang tua yang pernah kau jumpai di Makkah dahulu adalah ayah gadis ini. Dia pernah mengatakan bahwa tidak pernah ia menjumpai seorang muslim yang lebih baik dan jujur daripada orang yang telah mengembalikan kalung tersebut. Kemudian dia berdoa agar dapat dipertemukan kembali dengannya dan dapat menikahkan dengan putrinya. Meski dia sudah meninggal, namun hari ini do’anya dikabulkan oleh Allah SWT!” ujar mereka.

Akhirnya, pernikahan antara keduanya pun berlangsung dengan khidmat. Mereka pun mengarungi bahtera hidup dengan bahagia bersama anak-anak mereka. (*ilmu)


Desember 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*